Kamis, 30 Jul 2026 - :
27 Jul 2026 - 16:12 | 5 Views | 0 Suka

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meresmikan Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro No. 58, Menteng, Jakarta Pusat.

2 mnt baca

Kompaspopulr.news| JAKARTA – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meresmikan Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro No. 58, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026).

Peresmian bertepatan dengan peringatan 30 tahun Peristiwa 27 Juli 1996, yang dikenang sebagai salah satu tonggak penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

Pembangunan monumen ini dimaksudkan sebagai penghormatan kepada para pejuang demokrasi sekaligus pengingat agar praktik kekerasan atas nama negara tidak terulang.

Hadir Jajaran DPP dan Tokoh Nasional

Acara dihadiri pengurus DPP PDIP. Di barisan depan tampak Sekjen Hasto Kristiyanto, Djarot Saiful Hidayat, Ribka Tjiptaning, dan Kepala Badan Sejarah Indonesia DPP PDIP Bonnie Triyana.

Sejumlah tokoh nasional juga hadir, seperti Ganjar Pranowo, Tri Rismaharini, Ahmad Basarah, Andi Wijajanto, dan Yasonna Laoly. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Kaspudin Nor, serta Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) yang juga mantan Komisioner Kejaksaan RI periode 2011–2015 turut hadir.

“Jangan Lupakan Sejarah Ketidakadilan”

Dalam sambutannya, Megawati menegaskan Peristiwa Kudatuli harus terus diingat oleh generasi muda.

“Kudatuli adalah perjuangan melawan ketidakadilan. Esensinya adalah manifestasi ketidakadilan struktural pada masa itu. Karena itu nilainya tetap relevan untuk menjaga demokrasi, supremasi hukum, dan HAM,” tegas Megawati.

Menurutnya, monumen ini bukan hanya penanda sejarah, tetapi juga ruang refleksi agar bangsa tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Sekilas Peristiwa 27 Juli 1996

Kudatuli adalah singkatan dari Kerusuhan 27 Juli 1996. Peristiwa penyerangan terhadap Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro ini dipicu konflik kepemimpinan PDI antara Megawati Soekarnoputri dan Soerjadi.

Insiden tersebut menelan korban jiwa dan luka-luka. Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu catatan penting dalam dinamika politik nasional yang mengarah pada Reformasi 1998.

Melalui Monumen Kudatuli, PDIP berharap memori kolektif tentang perjuangan demokrasi tetap hidup. Peresmian ini sekaligus menandai 30 tahun perjalanan sejak Kudatuli, peristiwa yang menjadi titik balik sejarah demokrasi Indonesia. (Fadillah)

Penulis Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%