Senin, 28 Sep 2026 - :
23 Sep 2026 - 10:40 | 13 Views | 0 Suka

OPINI: Di Balik Angka Suku Bunga: Kritik CBA untuk OJK, “Jangan Hanya Lihat Bunga, Tapi Akar Masalahnya”

3 mnt baca

OPINI: Di Balik Angka Suku Bunga: Kritik

CBA untuk OJK, “Jangan Hanya Lihat Bunga, Tapi Akar Masalahnya”

oleh : Richard E. G. A. Angkuw
Pengamat Komunikasi Politik dan Kebijakan

Sorotan tajam kembali mengarah ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kali ini, kritik datang dari Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, yang menilai bahwa fokus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, pada isu kenaikan suku bunga kredit terlalu sempit dan mengabaikan isu fundamental yang lebih krusial dalam industri perbankan nasional.

Bagi Uchok, suku bunga hanyalah “puncak gunung es”. Sementara di bawah permukaan, terdapat masalah struktural seperti transparansi laporan keuangan, tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance), hingga perlindungan nasabah yang sering kali luput dari radar pengawasan.

Suku Bunga Bukan Satu-Satunya Indikator Kesehatan Bank

Dalam berbagai pernyataannya, Uchok menekankan bahwa obsessi terhadap suku bunga sering kali membuat regulator terlambat mendeteksi penyakit kronis di tubuh perbankan.

“Jika OJK hanya sibuk membahas apakah suku bunga naik atau turun, mereka bisa kehilangan jejak atas praktik-praktik tidak sehat lainnya, seperti penggelembungan aset, kredit macet yang disembunyikan, atau remunerasi direksi yang tidak berbanding lurus dengan kinerja riil,” ujar Uchok.

Kritik ini muncul di tengah dinamika ekonomi global yang menuntut ketahanan sektor keuangan. Namun, bagi masyarakat kecil dan pelaku UMKM, yang mereka rasakan bukan hanya besaran bunga, tetapi juga akses yang sulit, biaya tersembunyi (hidden fees), dan ketidakjelasan saat terjadi sengketa dengan bank.

Tantangan untuk Dian Ediana Rae: Melampaui Angka Makro

Sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Dian Ediana Rae menghadapi tekanan besar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Namun, CBA mengingatkan bahwa stabilitas tidak boleh dicapai dengan mengorbankan transparansi dan keadilan bagi nasabah.

Uchok menyoroti beberapa poin buta yang perlu segera dibenahi oleh OJK:

  1. Transparansi Laporan Keuangan: Banyak bank yang mencatat laba fantastis namun minim dividen atau justru memiliki NPL (Non-Performing Loan) yang dimanipulasi.
  2. Remunerasi vs Kinerja: Besarnya gaji dan tunjangan pejabat bank serta pegawai OJK sendiri harus dikaji ulang agar sesuai dengan kontribusi nyata terhadap kesehatan sektor keuangan.
  3. Perlindungan Nasabah: Mekanisme penyelesaian sengketa yang sering kali berpihak pada institusi besar daripada individu.

Peringatan: Jangan Sampai Regulator Tertidur

Kritik CBA ini adalah “alarm bangun” bagi OJK. Jika regulator terlalu nyaman berada di zona makroekonomi dan lupa menyentuh realitas mikro di lapangan, maka kepercayaan publik terhadap sistem perbankan akan terus terkikis.

Dian Ediana Rae ditantang untuk membuktikan bahwa OJK bukan sekadar “penjaga angka”, tetapi juga “pelindung hak”. Masyarakat tidak butuh sekadar suku bunga yang stabil, mereka butuh perbankan yang bersih, adil, dan benar-benar bekerja untuk perekonomian rakyat, bukan hanya untuk laporan tahunan yang indah.

Stabilitas finansial tanpa keadilan sosial hanyalah ilusi.

Penulis Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%