Jumat, 17 Jul 2026 - :
16 Jun 2026 - 06:57 | 11 Views | 0 Suka

Luka “Kenangan PCMB 2026”: Ketika Anak Yatim Kalah dengan Desil 5

2 mnt baca

Kompaspopular.news | Tajuk Opini – PCMB 2026 seharusnya jadi gerbang harapan bagi calon murid SMA di Jawa Barat.

Tapi bagi sebagian anak di Kabupaten Bogor, khususnya jalur Afirmasi, proses ini justru meninggalkan bekas luka yang dalam.Di atas kertas, web PPDB dan SK Gubernur Jawa Barat jelas menulis:

Jalur Afirmasi diperuntukkan bagi pemilik Desil 1-4 DTKS

Mereka adalah anak yatim, penerima BPJS PBI, penerima PIP – warga yang secara data negara diakui tidak mampu.

Namun realitanya bertolak belakang. Di lapangan, Desil 5 yang BPJS-nya sudah mandiri dan tidak menerima bantuan apapun, tetap bisa mendaftar dan lolos Afirmasi.

Sementara Desil 4 yang BPJS PBI dan penerima PIP di SMP, tersingkir.Yang lebih menyayat: dua calon murid itu tinggal 1 RT 1 RW, bahkan bisa disebut tetangga samping. Jarak ke sekolah sama.

Bedanya, satu anak yatim dengan ibu penjual sayur keliling, satu lagi keluarga yang secara ekonomi masih mampu.

Ketika dikonfirmasi, jawabannya tidak selaras.

Panitia seleksi menyebut “ada edaran Desil 1-5”. Humas sekolah berdalih “sesuai SK Gubernur informasi dari operator”. Pengawas bilang “beda sedikit saja pengaruh”. KCD Wilayah 1 bungkam.

Jika aturan bisa ditafsir sepihak tanpa sosialisasi transparan, untuk apa ada SK Gubernur? Jika data DTKS Desil 4 kalah dengan Desil 5, ke mana harus mengadu anak yatim itu? Awak media yang menelusuri mendapat fakta memprihatinkan: kekacauan ini berawal dari pendaftaran online mandiri dan kolektif yang tidak diawasi ketat.

PCMB 2026 meninggalkan kenangan, tapi bukan kenangan manis. Ini kenangan tentang keadilan yang tertunda bagi warga yang paling butuh pendidikan ( Red )

Penulis Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%