Minggu, 30 Agu 2026 - :
13 Agu 2026 - 07:31 | 12 Views | 0 Suka

Peluncuran Buku “Takhta, Darma dan Karsa”, Mengungkap Warisan Pemikiran dan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX

3 mnt baca

Peluncuran Buku “Takhta, Darma dan Karsa”, Mengungkap Warisan Pemikiran dan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Kompaspopular.news| JAKARTA, 13 Agustus 2026 — Di tengah tantangan krisis karakter, pragmatisme, dan derasnya disrupsi digital, pemikiran serta keteladanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX kembali dihadirkan untuk menjawab kebutuhan generasi muda Indonesia masa kini.

Melalui peluncuran buku “Takhta, Darma dan Karsa: Pemikiran, Karya, dan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengku Buwono IX”, Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas mengajak masyarakat, khususnya generasi muda dan keluarga besar Gerakan Pramuka, untuk tidak sekadar mengenang sejarah, tetapi menghidupkan kembali semangat pengabdian yang diwariskan Sri Sultan HB IX.

Buku tersebut diluncurkan pada Kamis, 13 Agustus 2026, di Auditorium Sukarman, Lantai 2, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta. Sri Sultan Hamengku Bawono Ka10 berkenan meluncurkan buku yang disusun sebagai bagian dari upaya mendukung pengembangan pendidikan kepramukaan.

Sebagai pembicara kunci, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Prof. Dr. Abdul Mu’ti menyoroti pentingnya buku ini sebagai rujukan utama pendidikan karakter dan kebijakan integrasi kepramukaan berbasis sekolah di tanah air.

Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas bekerja sama dengan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY, dengan dukungan Perpustakaan Nasional, Arsip Nasional Republik Indonesia, Masyarakat Sejarawan Indonesia, dan Penerbit Andi Offset Yogyakarta. Buku ditulis oleh Dr. Harto Juwono, M.Hum. dan Anis Ilahi Wahdati, M.Si.

Takhta, Darma dan Karsa tidak hadir sebagai biografi yang sekadar mengisahkan perjalanan hidup seorang tokoh. Buku ini merupakan historiografi gagasan, karya, dan filosofi kepemimpinan Sri Sultan HB IX, khususnya dalam membangun Gerakan Pramuka sebagai instrumen pendidikan karakter dan pembangunan bangsa.

Trilogi Takhta, Darma dan Karsa menjadi gagasan utama buku ini: takhta adalah instrumen kekuasaan, darma adalah pengabdian, sedangkan karsa adalah kehendak luhur yang menggerakkan keduanya untuk kepentingan rakyat dan kedaulatan bangsa.

Dengan demikian, kekuasaan tidak ditempatkan sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Pramuka, dalam pemikiran Sri Sultan HB IX, harus hadir menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Dalam pidato legendaris beliau di Tokyo pada tahun 1971 berjudul “Scout Action for Community Development”, beliau mengubah kiblat kepanduan dunia dengan memindahkan ruang belajar dari sekadar rekreasi petualangan hutan (woodcraft) menjadi bakti nyata pembangunan masyarakat

Pedesaan (community/rural development).Gagasan tersebut mendapat pengakuan internasional melalui penganugerahan Bronze Wolf Award, penghargaan tertinggi dalam gerakan kepanduan dunia, kepada Sri Sultan HB IX pada tahun 1973.Bagi Sri Sultan Hamengku Buwono KeX warisan Sri Sultan HB IX harus diteruskan bukan dengan sekadar menjaga bentuk-bentuk lama, melainkan dengan menghidupkan nilai dan semangat yang mendasarinya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas Acep Somantri memandang pemikiran Sri Sultan HB IX memiliki relevansi kuat bagi pembangunan karakter generasi muda menuju Indonesia Emas 2045. Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas akan membentuk “Bapak Pramuka Indonesia Fellowship” untuk melestarikan nilai-nilai keteladanan, darma dan karsa Sri Sultan HB IX, yang diharapkan dapat diluncurkan pa

Penulis Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%